Di tengah hutan malam hari, jelita
di dalam hujan dan angin, alam dan gairahnya
kita berbagi coklat, memanjangkan malam
menjumpai titik-titik beku di atas tanah-tanah milik kaum bisu
seperti kandang mewah kuda yang tuan punya
menghamparkan rumput-rumput kemurungan.
Dan pagipun menghantar wewangian lumut,
ketika jiwa kita melarut ke dalam uap kopi;
begitu dingin waktu, begitu dingin tidurku dan tidurmu
pada rentang waktu dan retak ranting
pada peristiwa pagi yang membawa keindahan dan keterputusan
pada kelembutan embun dan gairahnya atas kehidupan
ingin aku ucapkan kalimat cinta itu lagi.
Perjalanan ini, bukan kalimat yang terlalu sering diulang
demi menegaskan situasi yang sama
tapi hutan cemara, juga gelap kata-katamu,
kalimat yang singgah pada kemuraman
juga derai tawa yang terbang seperti burung,
kita peras segenap kesementaraan
pada keajaiban embun, kegaiban kabut
bersama penjelmaan mereka yang ditinggalkan
kita mengalir ke kampung-kampung
merasuk ke dalam urat kesunyiannya yang terluka diam-diam.
Jelitaku, pada kenangan hidup ini lebih suka bersandar:
keindahan dan kekejaman
sebuah ingatan yang panjang di mana aku rebah di situ
di antara rumput dan kertas, diantara nafas dan bibirmu
menuliskan kalimat cinta itu lagi,
hingga kembali aku temui coklat matamu,
penuh rencana berkelana.
Tapi sebelum menyala api itu, aku dilempar ke sebuah akhir
ketika kematian adalah kematian, dan kehidupan adalah kehidupan.
(Abu Mufakir)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar