Senin, 21 November 2011


Pengaruh Pura Terhadap Alam Besakih 
(Hafyyan - K11.2810.GLD.001)

“Kalau sampai ada apa-apa, lalu pura hancur, kita juga hancur!”.
          Desa Besakih terletak di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali dan terbagi menjadi sebelas Banjar. Banjar adalah bagian dari desa yang setingkat dengan Rukun tetangga (RT) dan dikepalai oleh seorang kelian. Dari luas desa yang mencapai 2.123 hektar, 1200-nya harus ia berikan tempat kepada komplek Pura Besakih, yang menjadi pesona utama Desa Besakih selain Gunung Agung.
          Pura terbesar di Indonesia ini sudah berdiri sejak 5SM. Tujuan utama pembangunan pura tentu saja sebagai tempat beribadah umat Hindu. Melalui media pura, umat Hindu beribadah memohon keselamatan diri kepada Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa).
          Pada praktiknya, Pura besakih bukan saja berperan sebagai tempat ibadah. Keindahan ornamen, kemegahan bangunan, dan nilai historisnya telah menarik ratusan wisatawan untuk berkunjung setiap harinya. Bertambahlah peran pura besakih, yaitu sebagai sarana objek wisata yang tidak saja menjadi ciri khas Desa, tetapi juga ciri khas Bali.
Dunia sudah mengakui keberadaan Pura Besakih. Kesimpulan dari banyaknya turis mancanegara yang berkunjung untuk menikmati pesona Pura Besakih. Kurang lebih setiap harinya ada sekitar 400 turis yang datang. Macam-macam asalnya. Ada yang dari Kanada, Amerika, Perancis, Inggris, Jerman, Belanda, India, Korea, Jepang.
          Banyak turis yang datang, baik lokal maupun interlokal, tentu saja membuka lapangan pekerjaan di Desa Besakih. Mulai dari penjaga gerbang, penjual cinderamata, warung makanan, penjual jasa foto, WC umum, hingga pengelola pura yang berjumlah puluhan. Sektor ekonomi desa seolah terselamatkan oleh duet maut antara Pura Besakih dan Gunung Agung. Karena tingkat ekonomi naik, tingkat kejahatan pun bisa ditekan seminimal mungkin.
          Menurut Kepala Desa Besakih, I Wayan Ada, hidup masyarakatnya begantung kepada keberadaan Pura Besakih. Oleh karena itu, masyarakatnya tidak segan-segan dalam menjaga kebersihan dan keasrian pura. Lingkungan alam desa pun dijaga agar tetap matching dengan kemegahan si duet maut (Pura Besakih dan Gunung Agung).

Beliau juga selalu menghimbau warganya untuk ramah kepada para pengunjung, termasuk pula dengan travel guide­-nya. Travel guide itu bisa dikatakan sebagai pihak yang telah berjasa mengantarkan orang yang memberi makan warga desanya.
          Apa yang dilakukan oleh warga dalam menjaga lingkungan desa sebenarnya biasa saja. Membuang sampah ditempatnya, menjaga lingkungan agar tetap bersih, memelihara tanaman, standar saja. Namun, itu semua dilakukan secara disiplin. Hal-hal yang terbilang kecil, kalau dilakukan akan sangat terasa manfaatnya. Seperti kata pepatah “sedikit-sedikit, lama-lama jadi bukit”, masyarakat Besakih mampu merepresentasikan esensi tersebut dalam kesehariannya.
Pohon pun tidak sembarangan di tebang, walaupun pohon tersebut sudah membuat jalan retak. Tetap ada prosedur yang harus dijalani, seperti diskusi terlebih dahulu, dan bila keputusannya pohon akan ditebang, pohon tersebut harus diupacarai terlebih dahulu.
Dahulu, warga desa suka mencari kayu di hutan wilayah kaki Gunung Agung. Kayu ini digunakan untuk membetulkan rumah warga yang rusak dan untuk keperluan perapian. Bagusnya, tidak ada yang berani memanfaatkan kayu ini untuk dijual secara besar-besaran. Namun, sekarang, warga sudah tidak lagi mengambil kayu di hutan untuk membetulkan rumah. Sebagian warga pun sudah tidak membutuhkan kayu untuk keperluan perapian. Arus modernisasi telah membawa mereka ke perubahan yang lebih baik. Namun, tetap saja ada sebagian kecil warga yang mengambil kayu di hutan untuk keperluan perapian dan masak.
Untungnya, untuk mengambil kayu di hutan tidak bisa dilakukan semena-mena, karena sebelum mengambil harus melapor dulu ke petugas kehutanan.
Penjagaan lingkungan alam desa tidak hanya menjadi tanggung jawab masyarakat Desa Besakih. Pemerintah pun ikut ambil bagian dan peduli dengan kelestarian alam desa. Tenaga kebersihan khusus juga di kerahkan untuk menjaga kebersihan dan keasrian komplek pura. Ada pula polisi hutan yang berfungsi menjaga hutan yang terletak di kaki Gunung Agung. Pemerintah juga pernah membagikan bibit durian dan manggis secara gratis kepada warga untuk ditanam di hutan.
Dari pembagian bibit tersebut, tercetuslah peraturan yang dikomandoi Kepala Desa, yaitu “Siapa yang menanam, dia yang wajib merawatnya”. Menurut penulis, aturan seperti ini mampu mengikat warga untuk melakukan penanaman dan pemeliharaan dengan baik. Bila ada warga yang tidak ikut aturan akan terlihat atau ‘terbilang’ aneh.
Masyarakat yang sedang melakukan Ibadah  di pura Besakih
Menurut Ketua Adat Desa Besakih, I Wayan gunatra, penjagaan lingkungan alam Desa Besakih tentu saja tidak bisa dilepaskan dari ajaran agama Hindu. Dalam agama Hindu dikenal istilah ‘Tri Hita Kirana’. Ajaran ini mengatur tiga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan YME, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Ada juga ajaran mengenai upacara penghormatan kepada alam, seperti tumbuhan, yaitu upacara tumpek uduh.
 Tujuannya adalah memohon agar yang menciptakan jiwa tanaman memberi manfaat kepada manusia. Misal: kalau menanam padi, semoga menjadi padi yang berhasil, yang bagus.
Selain upacara tumpek uduh, ada pula upacara tumpek kandang. Kalau tumpek uduh mendoakan tumbuhan, sedangkan tumpek kandang mendoakan hewan. Upacara tumpek ini dikenal juga sebagai peringatan hari ulang tahun tumbuhan ataupun hewan piaraan.
Dalam ajaran Hindu juga dikenal istilah kertih yang berarti persembahan suci yang tulus. Pandita Dukuh Acharya Dhaksa menjelaskan bahwa ada enam macam kertih yang terdapat dalam Weda. Wana kertih yang berarti pemujaan kepada hutan, danu kertih yang berarti pemujaan terhadap danau, akasa kertih yaitu pemujaan terhadap alam atas (udara), kemudian buana kertih yang berarti pemujaan untuk bumi, segara kertih yaitu pemujaan untuk laut, dan terakhir bama kertih yang berarti penyelerasaan terhadap alam gaib.
Menurut Pak Kades, antara Desa Besakih, Pura, dan Gunung Agung memang telah menjadi sebuah kesatuan yang telah memberi berkah, khususnya bagi masyarakat sekitar. Untuk itu kita (manusia) harus menjaga alam agar alam pula menjaga kita.
          Praktik keagamaan telah menyelamatkan seluruh entitas desa. Bukan hanya desa, tapi juga nasib provinsi, bahkan bangsa pun telah angkat kasta. Dari aturan agama, berpengaruh pada budaya, dari budaya berpengaruh terhadap kehidupan sosial, dan dari kehidupan sosial telah menaikan status ekonomi. Kenaikan tingkat ekonomi pun berbanding terbalik dengan tingkat kejahatan yang terus menurun.
Dari berbagai fakta mengenai kehidupan Masyarakat Besakih bersama dua daya tarik utamanya, Pura Besakih dan Gunung Agung, penulis mendapatkan pelajaran.
Pertama, sesuatu yang kecil, apabila dilakukan dengan serempak dan berulang-ulang, akan memberikan efek yang besar. Sesuatu yang bernilai kebaikan, walaupun kecil, bila terus dipelihara, tentu saja akan memberikan manfaat yang besar.
Kedua, penghormatan terhadap ajaran agama, yang kemudian berpengaruh pada budaya dan kehidupan sosial, mampu menunjang kehidupan warga. Agama selalu mengajarkan kasih sayang, dan Masyarakat Besakih mampu menerjemahkannya dalam perilaku kepada alam sekitar. Alam yang sehat juga membantu masyarakat dalam keraktivitas sehari-hari. Simbiosis mutualisme yang indah pun dapat tercipta.
Ketiga, manfaat gotong royong. Sikap ini telah menjadi cerita lama yang mencerminkan kepribadian bangsa kita. Kebersamaan dan saling tolong-menolong telah mendarah daging, sehingga menciptakan atmosfer kekeluargaan.Hal inilah yang sayangnya mulai luntur dari tubuh bangsa ini.
Pada akhirnya, Desa Besakih dan warganya telah membuktikan, bahwa mereka merupakan representasi luhur budaya bangsa. Ada baiknya ini menjadi contoh bagi seluruh daerah tanah air, sehingga dapat tercipta Indonesia yang benar-benar “Raya” dan “Merdeka”, seperi apa yang dikatakan lagu kebangsaan kita.   



         



Sabtu, 12 November 2011

KEPADA PEREMPUAN BERNAMA M

Kemelut ini perempuan;
tumbuh dari rasa sakit yang gentayangan
seperti mata kuning penghibur malam, berserakan di taman-taman,
serta tangis kita dan mereka yang samar.
Ketika kesedihan memeluk rasa takut yang mekar
pada setiap tarikan nafas yang rawan
kita saling bertanya, seputar segala yang gelap, hitam, lapar dan terjal
hidup seperti tepian jurang, di mana mawar paling langka hidup di dasarnya
dan kita tidak ingin berhenti merenungkan rasa sakit yang sama.

Perempuan, antara waktu yang pecah,
cahaya, kekalutan mimpi, juga bibirmu yang api
kutemukan lagi titik-titik rawan bagi kata-kataku
yang terlantar dengan cinta
merindukan kegelapan yang mengancam,
ketika hidup tiba-tiba berdetak lebih kencang
menghantam liar batu-batu marmer: tradisi dan kebohongan tua
dan kita akan menikah tanpa baju pengantin, di atas ranjang tanpa kelambu
di saksikan jam dinding yang malu, juga potret putrimu yang cantik
kita akan memaksa Tuhan paham, keinginan terakhir anak manusia.

Cinta ini seperti pemabuk, jatuh lemas ke tepi sungai,
terseret arus dan masuk ke dalam sumur seorang penyair
menghadiahinya air kata paling tawar:
cinta ini memohon masuk, mengalir ke darahmu
agar kemiskinanku bersatu dengan kecantikanmu,
seperti gairah ombak dan karang
di langit kota malam hari.

(Abu Mufakir- Anyar, 2 Maret 2011)

Mari BUNG!!!

mari kita bekerja kembali..
mari kita kembangkan diri kembali, mari kita bersabar kembali...
mari kita bermimpi kemudian merealisasikannya kembali...
kita sudah pernah melakukannya bukan?
mari kita ingat untuk apa kita secara SADAR menyatukan diri dalam "KLUB" ini...
jangan bertanya "kenapa", tapi "kenapa tidak"
ayoooo, kita ber"country road" kembali,beibeeehhh..!!!
*Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya, saudara-saudaraku...

(Angga Nugraha-K8.2810.BC.001)

pendaki yang BAIK


Seorang pendaki yang baik,
tidak hanya tahu cara menikmati Tuhan,
dengan cara yang sama persis seperti ketika ia menikmati Blackberry.
Atau, menikmati desa di kaki pegunungan,
mirip seperti seorang tuan tanah menikmati tubuh istri mudanya.

(Abu Mufakhir-18 mei 2011 )

rindu tak bertepi

daks...,,,,boleh kah saya mengungkapkan kerinduan saya pada Kappa? dan bolhekan saya mengungkapkan sesuatu untuk kappa?rindu sekaligus gimana ya.......saking sayang rindunya saking saya ingin berada dalam suasana kappa sekeras itupula saya menolak untuk berada di tengah suasana kappa. saking saya tau bahwa di kappa itu penuh dengan kekeluargaan dan terutama canda tawa,,saking saya merasa ngilu untuk berada di tengah-tengah ruang itu......dan saya ingin kalian tau,,,,,,bahwa apa saja yang terjadi pada saya dan membuat saya seperti ini adalah karena kappa...sukanya, bangganya, senangnya, sulitnya, sakitnya, perihnya, semangatnya, itu adalah kappa.....saya hingga hari ini masih bangga telah menjadi bagian dari kappa...telah bangga bahwa saya memutuskan untuk mendaftar di kappa dan mengikuti pendidikan kappa.....apapun saya dan bagaimanapun saya, saya masih rindu kappa.....


"Vera Suciati- 28 mei2011"

belajar dan melihat

Dari air kita belajar ketenangan..
Dari batu kita belajar ketegaran..
Dari tanah kita belajar kehidupan..
Dari kupu-kupu kita belajar merubah diri..
Dari padi kita belajar rendah hati..
Dan dari Tuhan kita belajar tentang kasih sayang yang sempurna..

Melihat ke atas : Memperoleh semangat untuk maju
Melihat ke bawah : Bersyukur atas semua yang ada
Melihat ke samping : Semangat kebersamaan
Melihat ke belakang : Sebagai pengalaman berharga.
Melihat ke dalam : Untuk introspeksi diri
Dan Melihat ke depan : Untuk menjadi lebih baik.


"Ajeng Pinto"

i'm, i'm a Kappa :)

Siang ini, saat sedang makan siang *ups sorry :P* saya teringat KAPPA karena sebuah percakapan dengan seseorang. Saya tertawa sendiri jadinya. Teringat masa-masa susah dan sulit di KAPPA *hahhahaa, kayaknya, saat itu jarang senaaaaang* : Sedih, susah, marah kecewa, suka dan beribu kekonyolan terjadi. Tapi kalau dilihat dari titik saya sekarang, masa-masa itu jadi masa berharga yang tak ternilai harganya. Pertama karena saya banyak sekali belajar dari Kappa, kedua saya punya teman-teman yang luar biasa *luar biasa gila, luar biasa gak jelas, dan luar biasa absurd :P*, ketiga saya punya kenangan yang mungkin nggak dipunya mereka yang nggak masuk KAPPA, dan kenangan itu yang membuat saya terhibur ditengah himpitan tugas-tugas hidup yang bejibun...heheheheeeee... dan kalau dikalkulasi secara matematis, rasanya semuanya jadi menyenangkan sekarang. so, what is the words i can say? just how lucky i'm, i'm a Kappa :)

"Ajeng Pinto"

"Istri dan Suamiku"

Aku ingin namamulah yang kusebut saat aku mati,
karena dengan begitu, aku telah menyebut nama Tuhan ribuan kali

Aku ingin kaulah yang kuingat saat nafasku yang paling sakit datang,
karena dengan begitu, aku telah mengingat suatu saat yang paling bahagia

Aku ingin kaulah yang kusentuh, saat aku tak lagi bs merasakan apapun
karena dengan begitu aku akan menyambut kegelapan tanpa gelisah

Aku ingin kaulah yang memandikan jasadku,
karena dengan begitu aku telah memiliki pintu terluas untuk masuk ke mimpimu

Aku ingin kaulah yang menjadi istri dan suamiku

(Abu Mufakhir)

untuk Adon dan Veni*
*Pasangan K8 paling mantap!

Episode ke-II

Dan seharusnya aku merubahmu menjadi
gumpalan tanah, lalu melahirkannya kembali
ketika senja tertawa dan meronta seketika.
Seperti sisir merapikan helai waktu yang rumit.
Dengan begitu kita dapat meluruskan urat - urat takdir
sembari menghamburkan kemesraan;
di episode berikutnya, jika memang ada.

(Episode ke-II, Vila Bonitao)

Bahtera

Hidup seolah berada di sebuah bahtera yang berada di tengah samudra. Perlu perjuangan untuk membuat bahtera tersebut melaju menuju pulau impian. Jika tidak, behtera hanya akan terombang-ambing entah kemana. Kita perlu terus menjadikan bahtera bergerak dan mengarahkannya ke arah pulau impian kita. Namun, kadang badai datang, membuat bahtera kita oleng bahkan hampir tenggelam.

Namun bahtera kehidupan memiliki sebuah keajaiban. Bahtera kehidupan tidak akan pernah tenggelam selama kita memiliki harapan. Oleng mungkin tetapi tenggelam tidak jika kita masih memiliki harapan bahwa kita akan sampai ke tujuan yang kita impikan. Jika badai begitu lama menggoncang bahtera kita, jangan pernah menyerah, karena menyerah adalah satu cara pasti bahtera kita tenggelam. Harapan, membuat bahtera kita tidak akan pernah hancur dihantam gelombang dan tidak akan membuat bahtera kita karam.

Lalu, dari mana datangnya harapan? Harapan ada pada diri kita, sebab tidak ada badai yang melebihi kekuatan diri kita. Sebesar-besarnya badai masih dibawah kemampuan kita semua. Allah telah memberikan kekuatan yang sangat dahsyat pada diri kita atau mendatangkan badai yang besarnya masih ada dibawah kemampuan kita. Allah tidak pernah memberikan cobaan yang melebihi kemampuan kita.

Jagalah harapan bahwa selalu ada jalan keluar. Yakinlah bahwa kita bisa bertahan. Pasti ada sesuatu hikmah besar dibalik kesulitan yang kita hadapi. Semakin besar kesulitan, mungkin semakin besar dan bernilai hikmah yang akan kita dapatkan nanti. Jagalah harapan, karena badai pasti berlalu.

K4.2810.Badai Manglayang.008

'Rabbana ighfir-lana dzunubana wa israfana fi amrina wa tsabbit aqdamana wanshurna 'ala qaumil kafirin.' 'Ya Tuhan kami, ampunilah dosa kami & tindakan kami yg berlebihan dlm urusan kami & teguhkan pendirian kami & tolonglah kami terhadap kaum yg kafir (QS. ali-Imran : 147).

PERJALANAN untuk K14


Di tengah hutan malam hari, jelita
di dalam hujan dan angin, alam dan gairahnya
kita berbagi coklat, memanjangkan malam
menjumpai titik-titik beku di atas tanah-tanah milik kaum bisu
seperti kandang mewah kuda yang tuan punya
menghamparkan rumput-rumput kemurungan.

Dan pagipun menghantar wewangian lumut,
ketika jiwa kita melarut ke dalam uap kopi;
begitu dingin waktu, begitu dingin tidurku dan tidurmu
pada rentang waktu dan retak ranting
pada peristiwa pagi yang membawa keindahan dan keterputusan
pada kelembutan embun dan gairahnya atas kehidupan
ingin aku ucapkan kalimat cinta itu lagi.

Perjalanan ini, bukan kalimat yang terlalu sering diulang
demi menegaskan situasi yang sama
tapi hutan cemara, juga gelap kata-katamu,
kalimat yang singgah pada kemuraman
juga derai tawa yang terbang seperti burung,
kita peras segenap kesementaraan
pada keajaiban embun, kegaiban kabut
bersama penjelmaan mereka yang ditinggalkan
kita mengalir ke kampung-kampung
merasuk ke dalam urat kesunyiannya yang terluka diam-diam.

Jelitaku, pada kenangan hidup ini lebih suka bersandar:
keindahan dan kekejaman
sebuah ingatan yang panjang di mana aku rebah di situ
di antara rumput dan kertas, diantara nafas dan bibirmu
menuliskan kalimat cinta itu lagi,
hingga kembali aku temui coklat matamu,
penuh rencana berkelana.
Tapi sebelum menyala api itu, aku dilempar ke sebuah akhir
ketika kematian adalah kematian, dan kehidupan adalah kehidupan.


(Abu Mufakir)

Waktu

Waktu, seperi halnya ruang, adalah suatu bentuk murni dari intuisi atau persepsi inderawi. Waktu merupakan suatu kondisi yang menyangkut semua persepsi aktif maupun yang dipersepsikan, yakni semua pengalaman dan semua yang dialami. Seperti halnya ALAM yang terdiri atas RUANG DAN WAKTU, serta merupakan suatu PROSES. Ketika kita menekankan pada aspek KERUANGANNYA, maka kita MEWASPADAI keadaan alamiahnya yang OBJEKTIF. Sedangkan bilamana kita menekankan pada KEWAKTUANNYA, maka kita mewaspadai keadaan alamiahnya yang SUBJEKTIF. Seperti yang sering kita bicarakan, alam merupakan suatu PROSES menjadi yang TANPA AKHIR dan berkesinambungan. Segala sesuatu yang datang dan pergi di tengah waktu yang sifatnya sementara: waktu adalah suatu cara untuk eksis. EXPLORE!!