Rabu, 06 Juni 2012

Ekspedisi Khatulistiwa 2012

"Selamat Bergabung di Tim Ekspedisi Khatulistiwa 2012, kami tunngu kedatangannya di Pusdikkpassus Batujajar jam 09.00 besok pagi, Bandung, Jawa Barat, dgn membawa perlengkapan sesuai bidang + pribadi,
Hormat kami
Staf Ekspedisi Khatulistiwa"

Itulah isi sms yg saya terima pada pukul 20:09 WIB malam ini (17/03).. Jantung seolah berdetak lebih gesit.. Kiranya, resmi sudah saya melancong sekaligus mengabdi pada negara di belantara Kalimantan (walau belum tahu titik pasti ny)..

Mohon doany dari saudara-saudariku.. Semoga Saya gak malu-2in.. Syukur2 bisa berprestasi.. Walaupun kata fakultas, saya perwakilan FIKOM, dan kata universitas, saya perwakilan UNPAD,, namun secara tidak langsung saya adalah perwakilan KAPPA FIKOM UNPAD..

Kepergian bukan merupakan hal yang harus ditangisi atau membuat sedih.. Apalagi bagi kita,, Orang-orang yg diberikan hasrat lebih oleh Tuhan untuk menjadi seorang 'petualang', 'rover', ataupun 'penikmat alam'..

Saya kira 4 bulan bukan sesuatu yg singkat,, tergantung pemaknaannya.. Mungkin perasaan saya agak sedih,, karena saya belum pernah (semenjak jadi anggota) meninggalkan keluarga besar KAPPA dalam rentang waktu tsb.. Semoga dapat menjadi pembelajaran bagi saya,, dan kpd saudara-saudari,, khususnya adik-adik saya di DP XIII Vila Bonitao, Oh Trya, Ria Hermila, Marlene Hadiana, Tyas Dwi Pamungkas, Dhanang David Aritonang dan K15 yg sedang semangat2nya mereguk ilmu..

Esensi berkegiatan di alam bebas ialah kembali dgn selamat.. Namun,, saya butuh doa yg lebih "Super".. Doakan pula (selain kembali dgn selamat) Saya mampu membawa "Oleh-oleh Laporan" yg menarik,, sekaligus membanggakan utk KAPPA.. Hal ini tentu merupakan suatu ketetapan,, karena kita adalah Mapala Komunikasi..

Terima Kasih

Salam EXPLORE
K11.280.GLD.001

MEMORY KANG KALONG

=========================
= MEMORY KANG KALONG =
=========================

“alhamdullilah telah lahir secarik putri dengan nama “Siti khayla Maulana Sutisna” anak dari pasangan bapak Deny FS & Ny Lilis H pada hari senin 26 maret 2012” begitulah bunyi sms yang saya terima sekitar semalam jam 00.39.30… akh!saya kaget..bukan karena kelahirannya tetapi dengan namanya…kenapa mesti “maulana”? akh..mungkin “maulana” punya makna tersendiri bagi kang kalong beserta istri…



Tanpa disadari,pikiran saya mengembara ke tahun 2009, waktu itu musim hujan rintik-rintik dan musim duren kalau gak salah..ketika saya, kang kalong, bang rio dan si survival sedang menjalankan sebuah warung yang disebut WK alias warung komeng...

Hari jum’at, iya hari jum’at…kang kalong pergi setelah mandi ke sebuah tempat yang ada pengeras suaranya,pake sarung sarung segala si kang kalongnya, giliran ke alfamart dia pake celana panjang..aneh…

saya agak lupa, kalo gak salah saya gak ikut pergi deh..oh iyaaa,bener saya gak pergi…saya dan si survival gak ikut pergi..dikarenakan jaga kostan (insya oloh pahalanya sama)…ada hape nganggur…hape kang kalong…saya ambil,terus saya sms teh lilis, saya bilang gini “aa gak solat,neng…males akh dari kecil solat mulu..” gak lama kemudian dateng sms begini bunyinya “aa udah berani boongin lilis yah..katanya tadi mau solat..” gak cuma itu ada rentetan-rentetan sms yang lainnya lagi..salah satunya begini bunyinya “pokokna a,abi mah tos kesel….” Lanjutannya saya lupa lagi...tapi saya gak bales smsnya,males ah..kang kalong datang..mukanya senang-senang gitu padahal abis diceramahin orang ditempat yang ada pengeras suaranya tadi..saya sama si survival ikut mesam mesem aja…

kang kalong yang lagi senang ambil hape..baca-baca sms masuk..mukanya mengkerut…mungkin dia lagi mikir..ini ada apa sama kekasih saya yah?kok ojol ojol (tiba-tiba,bisa juga ojel-ojel : red) marah?…pas baca baca sentbox...langsung ngomong kang kalong begini “ komeng….!siahmah..!” langsung keluar mencet2 hape terus nelepon….bunyinya terdengar sama saya dan si survival…tutttt…tutttt… berhubung saya orang yang bertanggung jawab saya juga ikut keluar,ngomong langsung sama kang kalong,begini “kang,bade tuang soto moal?” dengan sedikit gerakan bak pemain silat asal rancakalong dijawabnya : “boleh” katanya dengan elegan (eleh ganti)…

Sekali lagi,selamat kepada kang kalong dan teh lilis atas kelahiran secarik putri pertamanya. Semoga menjadi anak yang bandel…susah loh jadi anak bandel,kang..harus membela nama sekolahan dari serangan sekolahan lainnya ketika guru-guru dan murid lainnya pada bersembunyi..bandel itu hebat lho kang..serius inimah …contohnya, temen saya ada dulu di sma..pinternya bukan kepalang,rumus fisika hapal semua,kimia jago bukan main,baik, rajin ibadah,nurut pula…beda ama mick jagger…dia mah bandel banget waktu mudanya kang…orangtuanya aja ampe angkat tangan,kang…tapi mick jagger sekarang mendunia!!teman saya mah enggak kang…orangtua mick jagger pasti bangga ngeliat anaknya seperti sekarang,kang..

================
Kang, Saya bisa ngebayangin sekarang kang kalong lagi apa? Pasti lagi memetik gitar dan bernyanyi yah kang? Pasti begini deh liriknya : “tangisan pertamamu ditandai bbm melambung tinggi..”


Petikan sms terakhir :
Saya :kang, naha jarang keluar nongkrong deui..?
Kang kalong : nya lur iye pamajikan urang,uy…
Saya : ah, abong abong ges merit,keluar dijero wae..

Bintara Jaya III RT 001/008 Bekasi barat, Kota Bekasi
sambil makan tape.

Senin, 21 November 2011


Pengaruh Pura Terhadap Alam Besakih 
(Hafyyan - K11.2810.GLD.001)

“Kalau sampai ada apa-apa, lalu pura hancur, kita juga hancur!”.
          Desa Besakih terletak di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali dan terbagi menjadi sebelas Banjar. Banjar adalah bagian dari desa yang setingkat dengan Rukun tetangga (RT) dan dikepalai oleh seorang kelian. Dari luas desa yang mencapai 2.123 hektar, 1200-nya harus ia berikan tempat kepada komplek Pura Besakih, yang menjadi pesona utama Desa Besakih selain Gunung Agung.
          Pura terbesar di Indonesia ini sudah berdiri sejak 5SM. Tujuan utama pembangunan pura tentu saja sebagai tempat beribadah umat Hindu. Melalui media pura, umat Hindu beribadah memohon keselamatan diri kepada Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa).
          Pada praktiknya, Pura besakih bukan saja berperan sebagai tempat ibadah. Keindahan ornamen, kemegahan bangunan, dan nilai historisnya telah menarik ratusan wisatawan untuk berkunjung setiap harinya. Bertambahlah peran pura besakih, yaitu sebagai sarana objek wisata yang tidak saja menjadi ciri khas Desa, tetapi juga ciri khas Bali.
Dunia sudah mengakui keberadaan Pura Besakih. Kesimpulan dari banyaknya turis mancanegara yang berkunjung untuk menikmati pesona Pura Besakih. Kurang lebih setiap harinya ada sekitar 400 turis yang datang. Macam-macam asalnya. Ada yang dari Kanada, Amerika, Perancis, Inggris, Jerman, Belanda, India, Korea, Jepang.
          Banyak turis yang datang, baik lokal maupun interlokal, tentu saja membuka lapangan pekerjaan di Desa Besakih. Mulai dari penjaga gerbang, penjual cinderamata, warung makanan, penjual jasa foto, WC umum, hingga pengelola pura yang berjumlah puluhan. Sektor ekonomi desa seolah terselamatkan oleh duet maut antara Pura Besakih dan Gunung Agung. Karena tingkat ekonomi naik, tingkat kejahatan pun bisa ditekan seminimal mungkin.
          Menurut Kepala Desa Besakih, I Wayan Ada, hidup masyarakatnya begantung kepada keberadaan Pura Besakih. Oleh karena itu, masyarakatnya tidak segan-segan dalam menjaga kebersihan dan keasrian pura. Lingkungan alam desa pun dijaga agar tetap matching dengan kemegahan si duet maut (Pura Besakih dan Gunung Agung).

Beliau juga selalu menghimbau warganya untuk ramah kepada para pengunjung, termasuk pula dengan travel guide­-nya. Travel guide itu bisa dikatakan sebagai pihak yang telah berjasa mengantarkan orang yang memberi makan warga desanya.
          Apa yang dilakukan oleh warga dalam menjaga lingkungan desa sebenarnya biasa saja. Membuang sampah ditempatnya, menjaga lingkungan agar tetap bersih, memelihara tanaman, standar saja. Namun, itu semua dilakukan secara disiplin. Hal-hal yang terbilang kecil, kalau dilakukan akan sangat terasa manfaatnya. Seperti kata pepatah “sedikit-sedikit, lama-lama jadi bukit”, masyarakat Besakih mampu merepresentasikan esensi tersebut dalam kesehariannya.
Pohon pun tidak sembarangan di tebang, walaupun pohon tersebut sudah membuat jalan retak. Tetap ada prosedur yang harus dijalani, seperti diskusi terlebih dahulu, dan bila keputusannya pohon akan ditebang, pohon tersebut harus diupacarai terlebih dahulu.
Dahulu, warga desa suka mencari kayu di hutan wilayah kaki Gunung Agung. Kayu ini digunakan untuk membetulkan rumah warga yang rusak dan untuk keperluan perapian. Bagusnya, tidak ada yang berani memanfaatkan kayu ini untuk dijual secara besar-besaran. Namun, sekarang, warga sudah tidak lagi mengambil kayu di hutan untuk membetulkan rumah. Sebagian warga pun sudah tidak membutuhkan kayu untuk keperluan perapian. Arus modernisasi telah membawa mereka ke perubahan yang lebih baik. Namun, tetap saja ada sebagian kecil warga yang mengambil kayu di hutan untuk keperluan perapian dan masak.
Untungnya, untuk mengambil kayu di hutan tidak bisa dilakukan semena-mena, karena sebelum mengambil harus melapor dulu ke petugas kehutanan.
Penjagaan lingkungan alam desa tidak hanya menjadi tanggung jawab masyarakat Desa Besakih. Pemerintah pun ikut ambil bagian dan peduli dengan kelestarian alam desa. Tenaga kebersihan khusus juga di kerahkan untuk menjaga kebersihan dan keasrian komplek pura. Ada pula polisi hutan yang berfungsi menjaga hutan yang terletak di kaki Gunung Agung. Pemerintah juga pernah membagikan bibit durian dan manggis secara gratis kepada warga untuk ditanam di hutan.
Dari pembagian bibit tersebut, tercetuslah peraturan yang dikomandoi Kepala Desa, yaitu “Siapa yang menanam, dia yang wajib merawatnya”. Menurut penulis, aturan seperti ini mampu mengikat warga untuk melakukan penanaman dan pemeliharaan dengan baik. Bila ada warga yang tidak ikut aturan akan terlihat atau ‘terbilang’ aneh.
Masyarakat yang sedang melakukan Ibadah  di pura Besakih
Menurut Ketua Adat Desa Besakih, I Wayan gunatra, penjagaan lingkungan alam Desa Besakih tentu saja tidak bisa dilepaskan dari ajaran agama Hindu. Dalam agama Hindu dikenal istilah ‘Tri Hita Kirana’. Ajaran ini mengatur tiga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan YME, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Ada juga ajaran mengenai upacara penghormatan kepada alam, seperti tumbuhan, yaitu upacara tumpek uduh.
 Tujuannya adalah memohon agar yang menciptakan jiwa tanaman memberi manfaat kepada manusia. Misal: kalau menanam padi, semoga menjadi padi yang berhasil, yang bagus.
Selain upacara tumpek uduh, ada pula upacara tumpek kandang. Kalau tumpek uduh mendoakan tumbuhan, sedangkan tumpek kandang mendoakan hewan. Upacara tumpek ini dikenal juga sebagai peringatan hari ulang tahun tumbuhan ataupun hewan piaraan.
Dalam ajaran Hindu juga dikenal istilah kertih yang berarti persembahan suci yang tulus. Pandita Dukuh Acharya Dhaksa menjelaskan bahwa ada enam macam kertih yang terdapat dalam Weda. Wana kertih yang berarti pemujaan kepada hutan, danu kertih yang berarti pemujaan terhadap danau, akasa kertih yaitu pemujaan terhadap alam atas (udara), kemudian buana kertih yang berarti pemujaan untuk bumi, segara kertih yaitu pemujaan untuk laut, dan terakhir bama kertih yang berarti penyelerasaan terhadap alam gaib.
Menurut Pak Kades, antara Desa Besakih, Pura, dan Gunung Agung memang telah menjadi sebuah kesatuan yang telah memberi berkah, khususnya bagi masyarakat sekitar. Untuk itu kita (manusia) harus menjaga alam agar alam pula menjaga kita.
          Praktik keagamaan telah menyelamatkan seluruh entitas desa. Bukan hanya desa, tapi juga nasib provinsi, bahkan bangsa pun telah angkat kasta. Dari aturan agama, berpengaruh pada budaya, dari budaya berpengaruh terhadap kehidupan sosial, dan dari kehidupan sosial telah menaikan status ekonomi. Kenaikan tingkat ekonomi pun berbanding terbalik dengan tingkat kejahatan yang terus menurun.
Dari berbagai fakta mengenai kehidupan Masyarakat Besakih bersama dua daya tarik utamanya, Pura Besakih dan Gunung Agung, penulis mendapatkan pelajaran.
Pertama, sesuatu yang kecil, apabila dilakukan dengan serempak dan berulang-ulang, akan memberikan efek yang besar. Sesuatu yang bernilai kebaikan, walaupun kecil, bila terus dipelihara, tentu saja akan memberikan manfaat yang besar.
Kedua, penghormatan terhadap ajaran agama, yang kemudian berpengaruh pada budaya dan kehidupan sosial, mampu menunjang kehidupan warga. Agama selalu mengajarkan kasih sayang, dan Masyarakat Besakih mampu menerjemahkannya dalam perilaku kepada alam sekitar. Alam yang sehat juga membantu masyarakat dalam keraktivitas sehari-hari. Simbiosis mutualisme yang indah pun dapat tercipta.
Ketiga, manfaat gotong royong. Sikap ini telah menjadi cerita lama yang mencerminkan kepribadian bangsa kita. Kebersamaan dan saling tolong-menolong telah mendarah daging, sehingga menciptakan atmosfer kekeluargaan.Hal inilah yang sayangnya mulai luntur dari tubuh bangsa ini.
Pada akhirnya, Desa Besakih dan warganya telah membuktikan, bahwa mereka merupakan representasi luhur budaya bangsa. Ada baiknya ini menjadi contoh bagi seluruh daerah tanah air, sehingga dapat tercipta Indonesia yang benar-benar “Raya” dan “Merdeka”, seperi apa yang dikatakan lagu kebangsaan kita.   



         



Sabtu, 12 November 2011

KEPADA PEREMPUAN BERNAMA M

Kemelut ini perempuan;
tumbuh dari rasa sakit yang gentayangan
seperti mata kuning penghibur malam, berserakan di taman-taman,
serta tangis kita dan mereka yang samar.
Ketika kesedihan memeluk rasa takut yang mekar
pada setiap tarikan nafas yang rawan
kita saling bertanya, seputar segala yang gelap, hitam, lapar dan terjal
hidup seperti tepian jurang, di mana mawar paling langka hidup di dasarnya
dan kita tidak ingin berhenti merenungkan rasa sakit yang sama.

Perempuan, antara waktu yang pecah,
cahaya, kekalutan mimpi, juga bibirmu yang api
kutemukan lagi titik-titik rawan bagi kata-kataku
yang terlantar dengan cinta
merindukan kegelapan yang mengancam,
ketika hidup tiba-tiba berdetak lebih kencang
menghantam liar batu-batu marmer: tradisi dan kebohongan tua
dan kita akan menikah tanpa baju pengantin, di atas ranjang tanpa kelambu
di saksikan jam dinding yang malu, juga potret putrimu yang cantik
kita akan memaksa Tuhan paham, keinginan terakhir anak manusia.

Cinta ini seperti pemabuk, jatuh lemas ke tepi sungai,
terseret arus dan masuk ke dalam sumur seorang penyair
menghadiahinya air kata paling tawar:
cinta ini memohon masuk, mengalir ke darahmu
agar kemiskinanku bersatu dengan kecantikanmu,
seperti gairah ombak dan karang
di langit kota malam hari.

(Abu Mufakir- Anyar, 2 Maret 2011)

Mari BUNG!!!

mari kita bekerja kembali..
mari kita kembangkan diri kembali, mari kita bersabar kembali...
mari kita bermimpi kemudian merealisasikannya kembali...
kita sudah pernah melakukannya bukan?
mari kita ingat untuk apa kita secara SADAR menyatukan diri dalam "KLUB" ini...
jangan bertanya "kenapa", tapi "kenapa tidak"
ayoooo, kita ber"country road" kembali,beibeeehhh..!!!
*Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya, saudara-saudaraku...

(Angga Nugraha-K8.2810.BC.001)

pendaki yang BAIK


Seorang pendaki yang baik,
tidak hanya tahu cara menikmati Tuhan,
dengan cara yang sama persis seperti ketika ia menikmati Blackberry.
Atau, menikmati desa di kaki pegunungan,
mirip seperti seorang tuan tanah menikmati tubuh istri mudanya.

(Abu Mufakhir-18 mei 2011 )

rindu tak bertepi

daks...,,,,boleh kah saya mengungkapkan kerinduan saya pada Kappa? dan bolhekan saya mengungkapkan sesuatu untuk kappa?rindu sekaligus gimana ya.......saking sayang rindunya saking saya ingin berada dalam suasana kappa sekeras itupula saya menolak untuk berada di tengah suasana kappa. saking saya tau bahwa di kappa itu penuh dengan kekeluargaan dan terutama canda tawa,,saking saya merasa ngilu untuk berada di tengah-tengah ruang itu......dan saya ingin kalian tau,,,,,,bahwa apa saja yang terjadi pada saya dan membuat saya seperti ini adalah karena kappa...sukanya, bangganya, senangnya, sulitnya, sakitnya, perihnya, semangatnya, itu adalah kappa.....saya hingga hari ini masih bangga telah menjadi bagian dari kappa...telah bangga bahwa saya memutuskan untuk mendaftar di kappa dan mengikuti pendidikan kappa.....apapun saya dan bagaimanapun saya, saya masih rindu kappa.....


"Vera Suciati- 28 mei2011"