Sabtu, 12 November 2011

KEPADA PEREMPUAN BERNAMA M

Kemelut ini perempuan;
tumbuh dari rasa sakit yang gentayangan
seperti mata kuning penghibur malam, berserakan di taman-taman,
serta tangis kita dan mereka yang samar.
Ketika kesedihan memeluk rasa takut yang mekar
pada setiap tarikan nafas yang rawan
kita saling bertanya, seputar segala yang gelap, hitam, lapar dan terjal
hidup seperti tepian jurang, di mana mawar paling langka hidup di dasarnya
dan kita tidak ingin berhenti merenungkan rasa sakit yang sama.

Perempuan, antara waktu yang pecah,
cahaya, kekalutan mimpi, juga bibirmu yang api
kutemukan lagi titik-titik rawan bagi kata-kataku
yang terlantar dengan cinta
merindukan kegelapan yang mengancam,
ketika hidup tiba-tiba berdetak lebih kencang
menghantam liar batu-batu marmer: tradisi dan kebohongan tua
dan kita akan menikah tanpa baju pengantin, di atas ranjang tanpa kelambu
di saksikan jam dinding yang malu, juga potret putrimu yang cantik
kita akan memaksa Tuhan paham, keinginan terakhir anak manusia.

Cinta ini seperti pemabuk, jatuh lemas ke tepi sungai,
terseret arus dan masuk ke dalam sumur seorang penyair
menghadiahinya air kata paling tawar:
cinta ini memohon masuk, mengalir ke darahmu
agar kemiskinanku bersatu dengan kecantikanmu,
seperti gairah ombak dan karang
di langit kota malam hari.

(Abu Mufakir- Anyar, 2 Maret 2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar