Pengaruh
Pura Terhadap Alam Besakih
(Hafyyan - K11.2810.GLD.001)
“Kalau
sampai ada apa-apa, lalu pura hancur, kita juga hancur!”.
Desa
Besakih terletak di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali dan terbagi
menjadi sebelas Banjar. Banjar adalah bagian dari desa yang setingkat dengan
Rukun tetangga (RT) dan dikepalai oleh seorang kelian. Dari luas desa yang
mencapai 2.123 hektar, 1200-nya
harus ia berikan tempat kepada komplek Pura Besakih, yang menjadi pesona utama Desa
Besakih selain Gunung Agung.
Pura
terbesar di Indonesia ini sudah berdiri sejak 5SM. Tujuan utama pembangunan
pura tentu saja sebagai tempat beribadah umat Hindu. Melalui media pura, umat
Hindu beribadah memohon keselamatan diri kepada Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang
Maha Esa).
Pada
praktiknya, Pura besakih bukan saja berperan sebagai tempat ibadah. Keindahan
ornamen, kemegahan bangunan, dan nilai historisnya telah menarik ratusan
wisatawan untuk berkunjung setiap harinya. Bertambahlah peran pura besakih,
yaitu sebagai sarana objek wisata yang tidak saja menjadi ciri khas Desa,
tetapi juga ciri khas Bali.
Dunia
sudah mengakui keberadaan Pura Besakih. Kesimpulan dari
banyaknya turis mancanegara yang berkunjung untuk menikmati pesona Pura Besakih. Kurang lebih setiap harinya
ada sekitar 400 turis yang datang. Macam-macam asalnya. Ada yang dari Kanada,
Amerika, Perancis, Inggris, Jerman, Belanda, India, Korea, Jepang.
Banyak
turis yang datang, baik lokal maupun interlokal, tentu saja membuka lapangan
pekerjaan di Desa Besakih. Mulai dari penjaga gerbang, penjual cinderamata,
warung makanan, penjual jasa foto, WC umum, hingga pengelola pura yang
berjumlah puluhan. Sektor ekonomi desa seolah terselamatkan oleh duet maut
antara Pura Besakih dan Gunung Agung. Karena tingkat ekonomi naik, tingkat
kejahatan pun bisa ditekan seminimal mungkin.
Menurut Kepala Desa Besakih, I Wayan Ada, hidup
masyarakatnya begantung kepada keberadaan Pura Besakih. Oleh karena itu,
masyarakatnya tidak segan-segan dalam menjaga kebersihan dan keasrian pura.
Lingkungan alam desa pun dijaga agar tetap matching
dengan kemegahan si duet maut (Pura Besakih dan Gunung Agung).
Beliau juga selalu
menghimbau warganya untuk ramah kepada para pengunjung, termasuk pula dengan travel guide-nya. Travel guide itu bisa dikatakan sebagai pihak yang telah berjasa
mengantarkan orang yang memberi ‘makan’ warga desanya.
Apa yang dilakukan oleh warga
dalam menjaga lingkungan desa sebenarnya biasa saja. Membuang sampah
ditempatnya, menjaga lingkungan agar tetap bersih, memelihara tanaman, standar
saja. Namun, itu semua dilakukan secara disiplin. Hal-hal yang terbilang kecil,
kalau dilakukan akan sangat terasa manfaatnya. Seperti kata pepatah “sedikit-sedikit,
lama-lama jadi bukit”, masyarakat Besakih mampu merepresentasikan esensi
tersebut dalam kesehariannya.
Pohon pun tidak sembarangan
di tebang, walaupun pohon tersebut sudah membuat jalan retak. Tetap ada
prosedur yang harus dijalani, seperti diskusi terlebih dahulu, dan bila
keputusannya pohon akan ditebang, pohon tersebut harus diupacarai terlebih
dahulu.
Dahulu, warga desa suka
mencari kayu di hutan wilayah kaki Gunung Agung. Kayu ini digunakan untuk
membetulkan rumah warga yang rusak dan untuk keperluan perapian. Bagusnya,
tidak ada yang berani memanfaatkan kayu ini untuk dijual secara besar-besaran.
Namun, sekarang, warga sudah tidak lagi mengambil kayu di hutan untuk
membetulkan rumah. Sebagian warga pun sudah tidak membutuhkan kayu untuk
keperluan perapian. Arus modernisasi telah membawa mereka ke perubahan yang
lebih baik. Namun, tetap saja ada sebagian kecil warga yang mengambil kayu di
hutan untuk keperluan perapian dan masak.
Untungnya, untuk
mengambil kayu di hutan tidak bisa dilakukan semena-mena, karena sebelum
mengambil harus melapor dulu ke petugas kehutanan.
Penjagaan lingkungan alam
desa tidak hanya menjadi tanggung jawab masyarakat Desa Besakih. Pemerintah pun
ikut ambil bagian dan peduli dengan kelestarian alam desa. Tenaga kebersihan
khusus juga di kerahkan untuk menjaga kebersihan dan keasrian komplek pura. Ada
pula polisi hutan yang berfungsi menjaga hutan yang terletak di kaki Gunung
Agung. Pemerintah juga pernah membagikan bibit durian dan manggis secara gratis
kepada warga untuk ditanam di hutan.
Dari
pembagian bibit tersebut, tercetuslah peraturan yang dikomandoi Kepala Desa,
yaitu “Siapa
yang menanam, dia yang wajib merawatnya”. Menurut
penulis, aturan seperti ini mampu mengikat warga untuk melakukan penanaman dan
pemeliharaan dengan baik. Bila ada warga yang tidak ikut aturan akan terlihat
atau ‘terbilang’ aneh.
![]() |
Masyarakat yang sedang melakukan Ibadah di pura Besakih
|
Menurut Ketua Adat Desa
Besakih, I Wayan gunatra, penjagaan lingkungan alam Desa Besakih tentu saja
tidak bisa dilepaskan dari ajaran agama Hindu. Dalam agama Hindu dikenal
istilah ‘Tri Hita Kirana’. Ajaran ini mengatur tiga hubungan harmonis antara
manusia dengan Tuhan YME, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Ada
juga ajaran mengenai upacara penghormatan kepada alam, seperti tumbuhan, yaitu
upacara tumpek uduh.
Tujuannya adalah memohon agar
yang menciptakan jiwa tanaman memberi manfaat kepada manusia. Misal: kalau
menanam padi, semoga menjadi padi yang berhasil, yang bagus.
Selain upacara tumpek uduh,
ada pula upacara tumpek kandang. Kalau tumpek uduh mendoakan tumbuhan,
sedangkan tumpek kandang mendoakan hewan. Upacara tumpek ini dikenal juga
sebagai peringatan hari ulang tahun tumbuhan ataupun hewan piaraan.
Dalam ajaran Hindu juga
dikenal istilah kertih yang berarti
persembahan suci yang tulus. Pandita Dukuh Acharya Dhaksa menjelaskan bahwa ada
enam macam kertih yang terdapat dalam
Weda. Wana kertih yang berarti pemujaan kepada hutan, danu kertih yang berarti pemujaan terhadap danau, akasa kertih yaitu pemujaan terhadap
alam atas (udara), kemudian buana kertih
yang berarti pemujaan untuk bumi, segara
kertih yaitu pemujaan untuk laut, dan terakhir bama kertih yang berarti penyelerasaan terhadap alam gaib.
Menurut Pak Kades, antara Desa
Besakih, Pura, dan Gunung Agung memang telah menjadi sebuah kesatuan yang telah
memberi berkah, khususnya bagi masyarakat sekitar. Untuk itu kita (manusia)
harus menjaga alam agar alam pula menjaga kita.
Praktik keagamaan telah menyelamatkan
seluruh entitas desa. Bukan hanya desa, tapi juga nasib provinsi, bahkan bangsa
pun telah angkat kasta. Dari aturan agama, berpengaruh pada budaya, dari budaya
berpengaruh terhadap kehidupan sosial, dan dari kehidupan sosial telah menaikan
status ekonomi. Kenaikan tingkat ekonomi pun berbanding terbalik dengan tingkat
kejahatan yang terus menurun.
Dari
berbagai fakta mengenai kehidupan Masyarakat Besakih bersama dua daya tarik
utamanya, Pura Besakih dan Gunung Agung, penulis mendapatkan pelajaran.
Pertama, sesuatu
yang kecil, apabila dilakukan dengan serempak dan berulang-ulang, akan
memberikan efek yang besar. Sesuatu yang bernilai kebaikan, walaupun kecil,
bila terus dipelihara, tentu saja akan memberikan manfaat yang besar.
Kedua, penghormatan
terhadap ajaran agama, yang kemudian berpengaruh pada budaya dan kehidupan
sosial, mampu menunjang kehidupan warga. Agama selalu mengajarkan kasih sayang,
dan Masyarakat Besakih mampu menerjemahkannya dalam perilaku kepada alam
sekitar. Alam yang sehat juga membantu masyarakat dalam keraktivitas
sehari-hari. Simbiosis mutualisme yang indah pun dapat tercipta.
Ketiga, manfaat
gotong royong. Sikap ini telah menjadi cerita lama yang mencerminkan kepribadian
bangsa kita. Kebersamaan dan saling tolong-menolong telah mendarah daging,
sehingga menciptakan atmosfer kekeluargaan.Hal inilah yang sayangnya mulai
luntur dari tubuh bangsa ini.
Pada
akhirnya, Desa Besakih dan warganya telah membuktikan, bahwa mereka merupakan
representasi luhur budaya bangsa. Ada baiknya ini menjadi contoh bagi seluruh
daerah tanah air, sehingga dapat tercipta Indonesia yang benar-benar “Raya” dan
“Merdeka”, seperi apa yang dikatakan lagu kebangsaan kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar